Archive for April, 2006

Mencintai itu Keputusan (disadur tanpa permisi dari blog Fican Filan)

Saturday, April 29th, 2006

semoga bermanfaat

Bekal kesadaran bagi yang ingin mencintai …

Mencintai Itu Keputusan
Karya : Anis Matta

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia.
Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah.
Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.
Sebentar kemudian ia pun berkata,"Kamu kaget melihat
semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu
temui di sini".
Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika
menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.
Selanjutnya adalah bukti.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi.
sebab memberi adalah pekerjaan..
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan,
menumbuhkan, merawat
dan melindungi itu berat.
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu
lama.
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya
mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki
kepribadian kuat dan tangguh.

maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia
mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan
kepribadian disitu.

Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin
memberimu sesuatu.
Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari,
"Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu
untuk mengetahui apa
yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan
bahagia…"
"aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu
agar bisa tumbuh
semaksimal mungkin…"
"aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses
pertumbuhan
dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan
padamu …"
"aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu
yang dapat merusak
dirimu…."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah
kepercayaan orang yang kita
cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali
kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu",
kamu harus membuktikan ucapan itu.
Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan
ketertarikan, tapi
terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi,
kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan
kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan,
menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi
cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak
ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu
suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada
pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada
orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan
kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan
kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta
yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa
cinta yang terasa begitu panas membara di awal
hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua,
ketiga, keempat dan seterusnya.
Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan
berakhir, keluarga
berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya
rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga
seterusnya pendakian.
Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana
pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu
kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di
tengah
situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi
teruji.
Di situ juga integritas terbukti.
Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di
tengah situasi yang
sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang
longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya
mengatakan bahwa hati
dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia
sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak
ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang
pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya
dengan cinta.
Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah
suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk
menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai
sehebat lelaki tua itu

============================================================
gw baru berani bilang, "saya menyukaimu"
doakan semoga gw jadi orang yang pantas dan mampu mengatakan, "saya mencintaimu"

Queen at My Playlist

Wednesday, April 26th, 2006

hari-hari gini gw lagi demen-demennya dengerin musik dan lagu karya ciptanya Mercury-May-Taylor-Deacon a.k.a Queen.
lha, bukannya gw dulunya ngaku-ngaku kalo gw penikmat fanatik The Beatles?
ya…sekali-kali boleh lah dengerin penyanyi laen. penyegaran gitu.

"tapi tetep aja band jadul" begitu kata Bowo, temen sebelah rumah yang ngakunya penggila musik hip-hop tapi manggut-manggut juga kalo denger Radja.
si Bowo ini udah bosen saban kali lagu-lagu Queen berkoar dari spiker komputer gw atau dari Ultra MP3 yang disetel ke volume maksimum.

"weleh….ternyata anak muda masih ada yang doyan musik-musik gini ya?" hari yang lain kak Jefri berkomentar. Kak Jefri ini adalah produk dari jaman kejayaan rock klasik. eranya Scorpion, Led Zeppelin dan kawan-kawannya. saking doyannya, dia jarang mau ngedengerin jenis musik yang lain. makanya dia rada lemot kalo bicara soal musik-musik terkini tapi jadi berapi-api kalo udah nyangkut masalah rock klasik.

"kalo Beatles sih gw masih demen, tapi kalo Queen musiknya rumit. apalagi musiknya jadi panutannya Ahmad Dhani.  makanya lagu-lagu Dewa sekarang njelimet banget." gw cuma manggut-manggut. yang ngomong barusan itu namanya Herman, biasa dipanggil Jarman karena emang anaknya jarang mandi. si Herman ini orang yang meyakini bahwa formasi terbaik Dewa adalah dengan Ari Lasso sebagai vokalis. bukan Dewa masa kini yang penuh arogansi Ahmad Dhani. padahal menurut gw itu menunjukkan bahwa mereka makin matang dalam bermusik. walaupun secara ideologi gw juga kurang sreg sama mas Dhani.

"gw sih piss aja. selama dia kagak nyenggol gw….." kalo ini Marjuli. Slanker sejati di kampung gw. tiap hari dia pasti make atribut-atribut Slank. terutama kaos. sampe-sampe gw curiga dia ini penggemar Slank fanatik atau males nyuci kaosnya itu.

"musik? lebih banyak mudharatnya ! kalo terpaksa gw lebih suka denger nasyid" ups….kalo ini Fikri. seorang remaja masjid. dia ngomong itu ketika dia ngeliat lagu-lagu Mp3 gw, dan sayangnya dia tidak menemukan satu nasyid pun di sana. gw jadi malu sendiri.

"ra nggenah !!!" itu kata Lik Marno. adik bokap gw. dia itu penggemar didi kempot.

"musik kesenangannmu itu gak bisa di pake OT" begitu kata Mang Sani, seorang tukang ojek. OT artinya organ tunggal. sarana hiburan rakyat yang marak di Palembang. biasanya menggunakan iringan lagu dangdut.

walah..ternyata banyak sekali pendapat yang berkembang. itu cuma satu masalah. gimana kalo masalahnya lebih besar dan lebih kompleks? pasti lebih banyak lagi pendapat dan komentar yang menyusul. apalagi kalo masalahnya dipandang dari berbagai sisi.
kalo sehari-hari, di berita-berita kita lihat ada masalah yang selalu menuai  pro-kontra, itu wajar karena setiap orang punya cara pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah. dan sebaiknya pihak-pihak yang bermasalah tersebut tidak menyelesaikan masalah sesama mereka sendiri. sebaiknya carilah penengah yan dapat dipercaya.
(kok kayaknya gak ada hubungannya sama Queen?)

===========================================================

Queen at My Playlist

  • ‘39
  • Good Company
  • Lazing on A Sunday Afternoon
  • Bicycle Race
  • Radio Ga Ga
  • Fat Bottomed Girls
  • Crazy Little Thing Called Love
  • Good Old-Fashioned Lover Boy
  • Dont Stop Me Now
  • Seven Seas of Rhye
  • Friends Will Be Friends
  • Its A Hard Life
  • Under Pressure
  • I Want to Break Free
  • We Will Rock You
  • Bohemian Rhapsody
  • Love of My Life

plus ada lagu tambahan

  • Seside Rendezvous
  • To much Love Will Kill you
  • I was Born to Love You

==========================================================
" I was born to love you…every single day of my life….." –Queen

pecel lele

Sunday, April 23rd, 2006

I
saya dulu gak tau apa bedanya pecel sama gado-gado.
dalam khazanah pemikiran saya, suatu jenis makanan yang terdiri minimal atas sayuran dan berbumbu kacang adalah pecel. ternyata saya menemukan ada orang yang mengatakan makanan itu bernama gado-gado.
saya yang sejak kecil hidup di dalam tempurung bagai katak, menganggap bahwa dua istilah itu sama saja.(padahal bokap orang jawa, tapi mungkin beliau nganggep bahwa gw udah tau kali ye?)
ketika saya kuliah, saya baru tahu bahwa gado-gado itu populer di betawi, dan itulah makanan yang selama ini gw kira sebagai pecel. sedangkan pecel (kalo gak salah) ternyata populer di jawa dan agak berbeda dengan gado-gado.
kalo gado-gado biasanya pake lontong. lontongnya dicampur sama sayuran jadi satu dengan bumbunya.
sedangkan pecel, biasanya pake nasi. nasi dan sayur di taruh di piring trus disiram sama bumbu kacang.
akhirnya gw tau bedanya.
tapi gw bingung juga, gw kalo makan gado-gado pake nasi sih.
nasinya gw taruh di piring, trus gado-gado diaduk sama nasi.
nah, nyebutnya apa tuh? gado-gado pecel?

II
ketika gw masih goncang dengan definisi pecel dan gado-gado, muncul lagi satu istilah nyentrik lagi.
pecel lele.
walah, dengan pecel dan gado-gado yang sama-sama mengandung sayur aja gw masih bingung, kok sekarang malah ada pecel yang pake ikan lele?
awalnya gw kira sama aja kayak gado-gado, tapi ikan lelenya diulek bareng bumbunya…..kedengarannya aneh dan menimbulkan selera makan yang tidak wajar.
atau mungkin kayak pecel, tapi selain sayur, pake ikan lele trus disiram bumbu kacang?
lha kalo misalnya ikan lelenya diganti ayam, jadinya pecel ayam ?
berarti nama makanannya akan berubah sesuai jenis pendamping sayur pecelnya?

jadi bingung…
sampe akhirnya gw makn pecel lele, olala….
ternyata sama sekali gak ada bumbu kacangnya.
isinya ikan lele goreng, lalapan dan sambel.
lha kok pake nama pecel? gimana itu asal-usulnya?

karena bingung, akhirnya gw gak pernah mikirin nama lagi.
kalo makanannya ada di hadapan, langsung hantam aja. sebodo sama namanya.
makan aja kok repot.

III
kali ini bukan makanan, tapi masih ada hubungan jauh (banget) sama pecel lele.

udah berbulan-bulan ini gw balik pangkalan ke Palembang. setelah tiga tahun bertugas di Banten. banyak yang berubah, tapi ada juga yang bertahan.
salh satu hal yang merasa membuat gw merasa "pulang" adalah celana.
kok celana?
iya, sejak gw SD sampe sekarang, ternyata kebiasaan pake celana lebar masih bertahan.
celana berbahan kain biasa yang umum, tapi biasanya berpotongan lebar, jadi keliatannya kayak pake sarung. bukan yang berbahan jeans kayak anak-anak penggemar skateboard itu. tapi bahan kain biasa. biasanya yang make anak-anak SMU. tapi sekarang udah gak terlalu lebar lagi.
beberapa tahun lalu, celana model ini adalah standar bagi remaja pria.
hampir semua remaja yang bikin celana kain, pasti pake model itu.
termasuk gw. biasanya, makin lebar celananya makin ngerasa keren.
tapi gw gak mau terlalu lebar. susye nyetrikanya. selain itu, katanya ITBAR.
habis, gw rada males pake model celana yang kayak dipake bapak-bapak. itu tuh, yang bagian kakinya kecil. malah ada yang kecil banget. keliatannya kuncup gitu. jadi ngerasa culun. makanya, walaupun celana gw sekarang udah gak terlalu lebar lagi, minimal bagian kakinya gak kuncup-kuncup amat.

ketika gw ngeliat bahwa gaya seperti ini masih dipakai oleh sebagian besar orang di kotaku, gw jadi ngerasa balik ke masa-masa dulu. serasa balik ke rumah.

trus hubungannya sama pecel lele?
oh ya, pecel lele itu akronim dari PErsatuan CElana LEbar-LEbar
he…he.,..he…

-i vs -kan

Sunday, April 9th, 2006

saya bukan JS Badudu ataupun ahli bahasa Indonesia yang lain.
walaupun sejak lahir saya telah berstatus warga negara Indonesia, bukan berarti saya bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
jadi maafkan kalo saya merasa sok tahu tentang bahasa Indonesia.

semalam, ketika tengah asik-asiknya menonton pertandingan klasik antara Manchester United dan Arsenal, saya menyadari suatu hal.
biasanya, sepanjang pertandingan akan muncul subtitel yang berisikan petunjuk tentang kuis yang diadakan oleh peyelenggara siaran. itu tuh, yang sering muncul kalo ada acara tv yang tulisannya : "siapa pemenang pertandingan ini, kirim sms ke…bla..bla..bla…."

karena siaran yang ditayangkan tv7 itu hak siarnya dibeli dari ESPN (atau starsport? au ah. pokoknya stasiun tv asing gitu) maka kuis yang diadakan adalah dari pihak pemilik hak siar pertandingan tersebut. karena stasiun tv tersebut bersifat internasional, tentu saja petunjuk kuisnya di buat dalam beberapa bahasa. ada bahasa inggris, malaysia, thailand, dan sebagainya.
berhubung gw tidak ahli berbagai bahasa, maka petunjuk berbahasa malaysia adalah petunjuk yang lebih mendekati gw mengerti. dan sebagaimana gw suka menganggap bahasa malaysia itu "lucu", gw suka membaca petunjuk kuis dalam bahasa malaysia itu.
bunyinya kira-kira gini : "siapa pemain terbaik perlawanan ini. menangi hadiah berupa xxxx. sila kirim ke nombor-nombor berikut….dst"

sampai semalam, gw baru sadar ternyata penyelenggara kuis juga membuat petunjuk dalam bahasa Indonesia. gw sadar ketika gw membaca : "siapakah pemain terbaik pada pertandingan ini. menangkan hadiah xxxxx. kirim jawaban anda ke nomor-nomor berikuit ini…dst"

apakah ada yang aneh?
sebenernya sih gak. gak ada yang aneh.
cuma gw teringat pada saat gw baca majalah Intisari yang ada kolom "berbahasa indonesia yang baik dan benar" asuhan JS Badudu.
disitu dia membahas mengenai imbuhan yang sering disalah tempatkan. salah satunya adalah imbuhan -i dan -kan pada kata menang.
Pak Badudu bilang bahwa bila seseorang menjadi juara pada atau mendapatkan hadiah dari suatu pertandingan, maka imbuhan yang diberikan pada kata me-menang-..  adalah imbuhan -i, bukannya -kan.

contoh :
"Joni memenangi pertandingan catur itu."
bukannya ,
"Joni memenangkan pertandingan catur itu."
atau
"Pak Rahmat memenangi sebuah mobil dari undian gebyar BCA"
bukannya
"Pak Rahmat memenangkan sebuah mobil dari undian gebyar BCA"

kenapa?
karena imbuhan -i tersebut menunjuk pada subjek, sedangkan imbuhan -kan menunjuk pada objek.
jelasnya, bila "Joni memenangkan pertandingan catur itu" artinya Joni membuat pertandingan catur itu menang. bukannya Joni yang menang, tapi pertandingannya yang menang karena dibantu Joni.
sama bila kita membuat kalimat " keputusan itu memuaskan kedua belah pihak" artinya kedua pihak menjadi puas karena adanya keputusan itu.
jadi, sebaiknya kita membuat kalimat dengan kata "joni memenangi pertandingan catur itu". arti yang terasa adalah Joni yang menang pada pertandingan tersebut.

jadi sebaiknya petunjuk pada kuis itu berbunyi "….menangi hadiah XXXX, kirim jawaban anda ke…dst"
karena kalo petunjuknya ‘menangkan’ artinya kita disuruh mengirim SMS agar hadiah tersebut menang. aneh , kan?

he…he…he..
sebenarnya gak terlalu penting, tapi mungkin sekedar mengingatkan.
tulisan-tulisan dalam blog gw juga gak semuanya pake bahasa Indonesia yang baik dan benar.

wajar aja kalo bangsa Indonesia gak bangga sama negaranya.
wong, bahasanya aja masih salah-salah.
jadi kita Indonesianya gak sempurna.
jadi pengetahuan kita tentang negara kita sendiri sebenarnya belumlah banyak.
karena tak begitu tahu, maka kita tak begitu kenal, akhirnya tak begitu sayang juga tak begitu cinta sama negara ini.
karena tidak begitu cinta, wajarlah bila rasa memiliki kita terhadap negeri ini tidak begitu dalam.
sehingga ketika pengaruh asing yang negatif masuk, kita enjoy aja.

============================================================
jangan-jangan orang-orang yang punya rasa memiliki yang tinggi terhadap Indonesia ini cuma pak JS Badudu dan rekan-rekannya sesama ahli bahasa Indonesia. soalnya mereka sampe ngabisin waktu dan tenaga buat mempelajari dan mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

junk food

Wednesday, April 5th, 2006

kita sepakat kan bahwa kita tahu apa yang dimaksud junk food?
ya sebangsa makanan-makanan cepat saji lah.
(sorry, cuma intro yang gak terlalu penting)

akhir-akhir ini gw beberapa kali makan di resto makanan cepat saji. aneh? biasa aja kan?
tapi tidak bagi gw.
secara tradisi, gw adalah orang primitif.
gw bukanlah orang yang suka makan (atau makan-makan) di luar. apalagi di resto-resto cepat saji. bahkan di tempat-tempat makan yang umum.
sebenarnya, makan-makan pun bukanlah kebiasaan gw.
bagi gw makan adalah dirumah. kalo orang makan di luar itu artinya di rumahnya lagi gak masak atau sebab lain yang memungkinkan dia gak makan dirumah.
bisa juga karena ada sesuatu yang dirayakan.
gw pun kalo beli makanan di luar, biasanya di bawa pulang dan dimakan rame-rame bersama keluarga.
karena itu gw baru ‘ngeh’ dengan tradisi makan-makan di luar selepas SMP. karena sejak SMP mulai ada temen2 temen yang ngajak makan di resto-resto. biasanya sih gw yang ditraktir.
tapi tetep aja, itu gak jadi ‘habit’ gw.
bahkan di SMU pun, dimana (menurut bahasa gw) adalah ‘era gaul tiap generasi’,  makan-makan tetaplah bukan hal yang ‘gw banget’.
mungkin karena itu gw jadi gak terlalu gaul di masa SMU gw. (emang ada hubungannya?)

back to junk food,
secara makan-makan bukanlah tradisi gw, maka tentu saja ketika ‘junk-foodization’ melanda kalangan ABG dan kaum yang katanya modern itu, gw gak terlalu terpengaruh sama ‘fever’ itu.

penyebabnya : gw menganggap makan makanan cepat saji sebenarnya bukanlah kebutuhan primer.
dulu gw ekstrim, orang yang makan di KFC, CFC, dan sebagainya itu (McD saat itu belum ada di Palembang) cuma buat gengsi doang.
gimana gak, kalo emang lagi laper kenapa gak makan, misalnya, gado-gado, atau nasi di warung nasi, dsb.
makanannya pun gak beda sama keseharian kita. nasi sama ayam.
tapi itu dulu. sekarang gw lebih toleran kok. mungkin mereka punya alasan sendiri dan gw gak akan ambil pusing sama alasan mereka itu. lagian junk food sekarang gak terbatas sama nasi dan ayam aja, walaupun sebenernya citranya udah telanjur diidentikkan dengan nasi dan ayam.

sebab kedua : makan junkfood tuh makan yang nanggung.
dalam definisi gw ada dua jenis makan.
makan karena udah hak perut, yaitu makan yang disebut minimal makan siang dan makan malam, dan kedua makan karena sebab lain, atau disebut ngemil, jajan, dan sebagainya.
nah, gw sebut tanggung adalah, kalo itu makan besar kok cuma nasi sama ayam aja? (bahkan di luar sono kagak pake nasi)
gw adalah orang Indonesia yang sejak kecil menyantap 4 sehat 5 sempurna, merasa ada yang aneh sama santapan van bule itu.
karena makan besar adalah makan nasi, sayur, lauk (minimal)
karena itu kalo makan junk food, biasanya di rumah gw makan nasi lagi. yang lengkap tentunya. karena junk food itu belum sempurna.
kalo disebut makan kecil, kok pake nasi ya?
makan kecil bukannya sekedar pengganjal perut?
kalo hamburger atau pizza sih masih bisa gw golongkan makanan kecil. (haa…pizza makanan kecil???!!!)
tapi kalo nasi sama ayam?
aneh buat disebut makanan kecil.
karena setelah makan, biasanya jadi bener-bener kenyang.
karena itu dulu gw suka gak tertarik sama makan di resto junk food (karena makannya cuma nasi sama ayam. mending makan bakso atau mi ayam, lebih bercita rasa)

tapi akhir2 ini kok gw sering ke resto tersebut?
ya, karena ditraktir, tentu saja.
atau karena gw udah jadi lebih moderat? modern? modem?(halah…)

gw perhatiin kayaknya makan junkfood gak ada salahnya. bagi yang suka. monggo. silakan aja. gw juga gak menganggap sinis lagi. asal gw ikut ditraktir.
gw pun saat makan makanan bergolongan junk food, bisa menikmati.
tapi tetep aja, gw orang primitif. (mungkin lebih tepatnya konservatif, kali ye?)
==========================================================
kalo gak salah, junk food itu artinya makanan sampah ?
berarti kita hebat donk, bisa mengolah sampah jadi hal yang bermanfaat