pagi tadi waktu gw lagi ngejemur pakean sehabis nyuci, kok tiba-tiba keinget sama Pak Roy, ya?
Pak Roy itu dosen yang pernah ngajar gw waktu tingkat dua dulu. Nama lengkapnya Roy Martfianto. orang pajak juga, masih muda, mantan presiden BEM, dan dulu katanya pernah dapet IP tertinggi seangkatannya (kalo gak salah loh).
Pak Roy ini ngajar mata kuliah Etika Profesi.
Beliau gak galak, malah ngajarnya enak banget.
beliau kalo ngajar ujung-ujungnya pasti ngasih cerita, dan biasanya berkaitan dengan pengalamannya sebagai fiskus di lapangan. makanya ceritanya manteb-manteb. gw suka kalo dia ngajar karena gaya ngajarnya yang asik itu. gw gak tau gimana pendapat temen-temen yang laen, tapi gw selalu menanti-nanti kuliah beliau.
walaupun beliau dosen favorit gw, anehnya gw gak pernah inget apa-apa yang pernah beliau kuliahkan tentang etika profesi (lagian buku teksnya ternyata membahas etika profesi untuk akuntan), kecuali cerita-ceritanya yang berkaitan dengan etika profesi fiskus.
cuma dua hal yang masih membekas dalam ingatan saya.
Beliau lah yang mengemukakan mengenai Grey Area pada kami (khususnya saya).
apa itu ? ‘Grey Area’ artinya ‘daerah abu-abu’, yaitu percampuran antara hitam dan putih, baik dan buruk.
jelasnya gini, sebenernya hitam dan putih atau baik dan buruk itu tidaklah mutlak.
diantara kedua pihak tersebut ada pihak ketiga yang namanya abu-abu.
kalo hitam atau putih itu sudah jelas. ekstrim. hitam adalah hitam, putih adalah putih. padahal pada kenyataannya hal yang berada di dalam daerah abu-abu itu sebenernya lebih rumit.
contohnya gini aja, petugas pajak deh…….(maafkan kalo contohnya aneh).
kalo petugas pajak (fiskus) yang baik bisa dibilang putih, dan mereka biasanya disanjung-sanjung. dan fiskus yang "jahat" bisa dibilang hitam, biasanya dihujat dan dimaki. kebanyakan orang hanya mengenal dua jenis fiskus ini. namun pada kenyataannya (menurut Pak Roy lho…) ada fiskus yang tejebak dalam daerah abu-abu. mereka yang sebenernya berhati bersih, namun dicap hitam karena mereka terseret dalam sistem yang kotor. dan ada yang berhati bejat namun terlindung dibalik taktik dan keliahaian berkelit mereka. dan jumlah orang yang berada di golongan abu-abu ini ternyata lebih banyak jumlahnya dari yang putih atau hitam.
bahkan diantara yang abu-abu pun bisa dibagi-bagi lagi menjadi abu-abu muda, abu-abu keputihan, abu-abu gelap, abu-abu kehitaman, dan macam-macam. tergantung kadar hitam atau putihnya.
selebihnya gw gak begitu inget. tapi gw ngerti satu hal, bahwa hidup kita itu tidak selalu hitam dan putih, ada faktor abu-abu juga di dalamnya.
"Ih, itu orang apa gak malu, ya.?!! suara jelek gitu jadi pengamen"
"iya bikin pusing aja. mana maen gitarnya gak karuan, lagi !!!!"
kalo kita berpikir secara hitam putih, mereka boleh jadi benar dan kita sependapat.
tapi apakah kita tahu kalo ternyata ia jadi pengamen karena ia tidak punya keahlian lain? ia baru di PHK sedang kan keluarganya butuh makan? bisa jadi ia sadar suaranya jelek dan tidak bisa maen gitar, namun ia harus menghidupi keluarganya. dan demi memenuhi tuntutan hidup ia mesti rela membuang rasa malunya dan tetap menyanyi. Atau bisa saja dia memang malas bekerja, dan melihat bahwa mengamen adalah cara termudah mencari uang. cukup sekedar nyanyi dan genjrang-genjreng sekenanya plus penampilan yang dibuat sangar, siapa tahu orang jadi jengah dan terpaksa mengeluarkan sedikit receh untuknya.
bisa saja kan?
lantas bagaimana?
gw gak minta anda untuk memutuskan sisi apa yang akan anda pilih. hitam, putih, abu-abu, terserah anda. tapi gw memberitahukan bahwa apapun pola pikir yang kita pakai, ingatlah bahwa ada pola pikir lain dari sisi berbeda. silakan mengklaim bahwa anda benar, tapi pikirkan juga bahwa ada kemungkinan di pola pikir yang lain, kita bisa saja salah.
cerita Pak Roy tentang Grey Area tersebut sedikit banyak melandasi cara berpikir gw saat ini. kalo ada orang yang bilang sesuatu itu benar atau salah, gw kadang mengiyakan, tapi setelah itu gw mencoba sedikit usil untuk melihat pendapat orang itu dari sisi yang berlawanan, kemudian dari sisi abu-abunya. yah, gak selalu begitu sih, kalo gw lagi inget aja. tapi dengan begitu gw jadi tidak terpaku pada satu pakem. gw jadi bisa melihat dari jendela yang lain, dan tidak secara mentah-mentah menerima suatu hal.
cuma kadang-kadang, tapi….he…he..he…
hal kedua yang mengesankan gw adalah, Pak Roy mengungkapkan tentang penting suatu visi dalam hidup kita. beliau cerita tentang seorang pengembara Mesir Kuno yang sedang melewati sekumpulan orang yang bekerja mengangkuti batu di sebuah lembah.
si pengembara bertanya kepada tiga orang yang ditemuinya
"apa yang kamu lakukan?"
orang pertama menjawab "saya sedang memindahkan batu"
orang kedua menjawab "saya sedang membangun Piramida"
orang ketiga menjawab "saya sedang membangun sebuah peradaban"
cerita itu yang menggugah gw untuk menatap masa depan lebih jauh dari apa yang sedang gw tatap sekarang. bukannya menatap bahwa gw sedang menumpuk batu-batu, tapi gw mencoba untuk meyakini bahwa gw sedang membangun sebuah peradaban besar yang akan dicatat dalam sejarah. muluk, sih. tapi gw suka…
DUPPPP !!!!!
tiba-tiba gw sadar………gw kesiangan !!!!
sudah hampir jam enam dan gw belum siap-siap berangkat. malah masih bengong di tiang jemuran.
=========================================================================
buat mas Pai, kayaknya daku gak bisa kayak sampeyan yang "puasa di gudang penuh makanan" lha wong daku gak puasa aja masih tetep kelaperan, disini kan bukan gudang makanan..he…he…he….