Archive for September, 2006

Track : When I’m Sixty Four — Artist : The Beatles — Writer : Paul McCartney

Friday, September 29th, 2006

When I get older losing my hair,
Many years from now.
Will you still be sending me a valentine
Birthday greetings bottle of wine.

If I’d been out till quarter to three
Would you lock the door,
Will you still need me, will you still feed me,
When I’m sixty-four.

You’ll be older too,
And if you say the word,
I could stay with you.

I could be handy, mending a fuse
When your lights have gone.
You can knit a sweater by the fireside
Sunday mornings go for a ride,

Doing the garden, digging the weeds,
Who could ask for more.

Will you still need me, will you still feed me,
When I’m sixty-four.

Every summer we can rent a cottage,
In the Isle of Wight, if it’s not too dear
We shall scrimp and save
Grandchildren on your knee
Vera Chuck & Dave

Send me a postcard, drop me a line,
Stating point of view
Indicate precisely what you mean to say
Yours sincerely, wasting away

Give me your answer, fill in a form
Mine for evermore
Will you still need me, will you still feed me,
When I’m sixty-four.

=========================================================================

tadi pagi, sewaktu gw di perjalanan ke kantor menaiki Kopaja 66, gw melihat sebuah Billboard gede sebuah majalah lifestyle bergambar Anang dan Krisdayanti.

di bawahnya tertulis komentar mereka : "Menikah itu untuk seumur hidup"

=========================================================================

gw baru teringat bahwa gw pernah nonton sebuah film dengan soundtrack when im sixty four ini.

nontonnya di kereta malam, saat gw mengadakan perjalanan ke sebuah kota di Jawa Timur

soundtrack of the life kah? Amiiin…..

Balapan Tarawih

Thursday, September 28th, 2006

gw gak tau gimana shalat Tarawih anda tapi gw sholat Tarawih 8 rakaat…

sejak gw pertama kali sholat Tarawih, gw selalu sholat yang 8 rakaat. kayaknya di Palembang itu udah jadi standar bahwa sholat Tarawih adalah 8 rakaat dan 3 rakaat sholat Witir.
soal ada ceramahnya, ada yang ceramahnya diadain setelah Isya, ada juga yang setelah Tarawih.
yang sholat 20 + 3 rakaat? ada juga, di masjid Agung dan beberapa masjid lainnya.

dulu, jaman gw belia, sholat Tarawih itu bener-bener bikin ngantuk…
Sholat Isya, dilanjutkan ceramah sekitar setengah jam, lalu sholat Tarawih yang 8 rakaat, bisa selesai sekitar jam 9 malam. bisa dibayangkan bahwa kemudian semangat Tarawih gw meluntur seiring makin menghujung Ramadhan

kemudian sekitar beberapa tahun lalu, gw Tarawih di masjid yang ceramah tarawihnya dilaksanakan setelah selesai Tarawih. jadi gw bisa pulang cepat dan intensitas Tarawih gw juga lebih meningkat.
tapi tetap saja, yang namanya sholat Tarawih itu ya selesainya juga agak kemalam-malaman gitu.

itu cuma cerita kecil, sekedar menyegarkan ingatan gw….
bukan itu kok yang dibahas

semenjak gw  mendarat di bumi yang bernama Jurang Mangu ini, gw dapet pengalaman baru.
dulu gw sempet kaget kalo dikasih tau bahwa disini umumnya sholat Tarawih dilaksanakan 20+3 rakaat.
wah, pasti selesainya bakal malem banget, bisa-bisa gw ngantuk abis besok paginya. iya kalo gak kuliah, kalo jadwal penuh gimana?
tapi ada yang ngasih tau bahwa kita bisa ikut Tarawih yang 8 rakaat, walaupun imamnya 20 rakaat.
begitu selesai rakaat ke delapan, ya keluar aja, selesaiin sholatnya. witirnya kerjain sendiri aja.

dan itu yang gw ikutin sampe sekarang

nah, yang mau gw ceritain adalah tentang Sholat tarawih di sini.
Sholat Tarawih disini dilaksanakan secara cepat, lebih cenderung ke arah Express.
bayangkan, dilaksanakan segera setelah sholat Isya, tanpa ceramah, dan –ini asyiknya— bacaan sholatnya ngebut full speed.
baca Al-Fatihah aja cuma dalam dua tarikan nafas, juga surat pendeknya bener-bener pendek dan cepat.
kayak dikejer-kejer apa gitu.
jadi sholat Tarawih udah kayak gerak badan atau senam aerobik aja.

kalo sholat isya dimulai sekitar jam tujuh malam, maka jam setengah delapan lebih sedikit gw udah kembali duduk-duduk di kosan, tentunya setelah sholat Tarawih 8 rakaat.
yang 20 rakaat ? jam delapan lewat aja selesainya….
gw gak tau, karena gw awam soal agama..
tapi gw tahu bahwa sholat itu harus khusyuk, disamping bahwa Ramadhan adalah bulan yang istimewa untuk beribadah sehingga semua orang berlomba-lomba memperbanyak ibadah mereka.

yang jadi pertanyaan gw, mana yang lebih utama?
banyaknya rakaat? atau kekhusyukan sholat itu sendiri?
yang gw lihat, kebanyakan lebih merasa utama dengan banyaknya jumlah rakaat.
yang penting rakaatnya banyak, jadi pahalanya banyak
mungkin gitu pikiran mereka
tapi jujur aja gw gak merasa nyaman dengan cara seperti itu
malah bikin capek

ada sih, masjid yang sholat 8 rakaat, pake ceramah, juga sholatnya gak tergesa-gesa.
tingkat kekhusukannya lebih baik lah dibandingkan diatas, tapi itu…
sekarang aja gw balik kerja nyampe di kos udah lewat maghrib, belum ditambah capek di perjalanan…(alesan aja, tuh…)

====================================================================================
tadi kebetulan gw ngedengerin sholat Tarawih di masjid lain didaerah sekitar sini, lebih maut lagi…
kalo di mesjid tempat gw sholat Tarawih yang cepet tadi baru satu rakaat, masjid yang gw denger suaranya ini ternyata udah nyelesaiin rakaat kedua……
Kilat Khusus, kalo kata Pak Pos…

disconnect

Saturday, September 23rd, 2006

"…
bukan ku malu,
bukan ku marah,
bila aku tidak cium dirimu…
bukan aku tak mau
ataupun tak setuju
sekarang ku tak tahan..
bau mulutmu…
la-la-la la-la la-la la-la…
la-la-la la-la la-la la-la…"

Bau Mulut
Endank Soekamti


PEMILIK BLOG INI MENULISKAN
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN BAGI ANDA YANG TELAH DIWAJIBKAN UNTUK MELAKSANAKANNYA
SEMOGA RAMADHAN TAHUN INI LEBIH BERMAKNA
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

=====================================================================================
kenapa judulnya discconnect?
nggak tau juga…
padahal bulan Puasa kan identik dengan bau mulut?
(siapa bilang? itu kan cuma kata orang- orang yang gak sikat gigi)

menikmati hidup

Wednesday, September 20th, 2006

gw gak inget udah berapa kali gw ngeliat dia
seorang bapak yang selalu bersepeda, membawa tas sandang, pulang kerja tampaknya
satu hal yang membuat gw terkesan pada beliau adalah keceriaannya
beliau selalu mengayuh sepedanya dengan senyum mengembang
padahal pada saat-saat seperti itu biasanya kita tengah berkeluh kesah karena merasa lelah akibat rutinitas, atau menggerutu karena macetnya jalanan, bisa juga karena setoran yang masih belum mencukupi

ah, kalo diperhatikan, penampilan bapak itu sangat bersahaja, kemeja batik lengan panjang yang selalu dimasukkan rapi ke dalam celana panjang yang gw inget mirip seperti yang biasa dipake kakek-kakek pada umumnya
tas sandangnya kecil saja, walau agak usang namun terawat baik
dan dia selalu memakai sandal, setidaknya begitu setiap kali gw ngeliat dia

tapi beliau begitu ceria
kadang beliau mengayuh sepedanya sambil bersenandung riang,
tembang Jawa nampaknya
kadang juga beliau menirukan suara klakson dengan suaranya sendiri,
tidak dengan ekspresi tergesa, tapi lebih kepada nada menyapa

kadang gw ngeliat beliau di daerah arteri Pondok Indah ketika hari belum gelap,
kadang gw ngeliat beliau di Ceger Raya menuju Taman Mangu kala selesai Maghrib
gw gak tau apakah itu orang yang sama
kalo iya, bisa dibayangkan menempuh jarak sejauh itu hanya dengan bersepeda dan..tetap riang gembira
kalo orang yang berbeda, alangkah beruntungnya memiliki hidup seperti itu

menikmati hidup ketika mengalir mungkin merupakan salah satu kenikmatan dunia
cobalah sejenak lepaskan keluh kesah, gerutu, caci maki, dan ekspresi negatif lainnya
tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan
kembangkan senyum
kemudian cobalah kembali maju
serasa di-refresh…..

=====================================================================================
gw paling suka tertawa
bukan karena gila
tapi tertawa itu membahagiakan
kalo anda gak suka tertawa, mungkin anda akan susah bergaul dengan gw

jayus, ngawak, bekelakar, bercanda, ngguyu, dan sebagainya
adalah kunci untuk mengenal gw

sedikit berpuisi boleh ya? (balikin gw yang gak sentimentil !!!)

Wednesday, September 20th, 2006

enam mawar putih
tiga mawar merah muda
tidak ada arti khusus
juga bukanlah sebuah simbolisme
hanya sebentuk rasa
cuma bagian embun yang menetesi batu
ratusan bahkan ribuan tahun hanya untuk melubanginya

(backsound : The Long and Winding Road–The Beatles)

====================================================================================
makin lama gw makin takut kalo saja yang pengen gw ambil itu cuma hologram
karena gw sendiri yang menciptakan hologram itu
gw takut lama-kelamaan gw lebih percaya sama hologram daripada wujud nyatanya
bahkan gw menganggap hologram adalah wujud nyata itu sendiri

gw takut…

menuju 22

Tuesday, September 19th, 2006

tak perlu ada lilin
tak perlu cake manis penuh warna
takk perlu tepukan tangan
tak perlu lagu selamat

sudah bertambah lagi bilangan umur, artinya sisa hidup sudah berkurang setahun lagi….(wallahualam)

akh kok gw jadi sentimentil gini..

umur gw udah hampir 22
artinya gw udah 22 tahun hidup di bumi
mungkin keliatannya masih muda (ehm….gw emang masih muda)
tapi kalo disebut sebagai perjalanan hidup, 22 tahun adalah waktu yang lama, dan seharusnya sudah banyak yang gw lihat, sudah banyak yang gw dengar, sudah banyak yang gw dapat, dan seharusnya sudah banyak pula yang sudah gw berikan…

sayangnya gw masih merasa apa yang gw berikan masih amat sangat terlalu sedikit…..

=====================================================================================
gw ini orang yang mikirin diri sendiri…
kok bisa?
buktinya  gw ngasih ucapan selamat ulang tahun buat diri gw sendiri :

selamat ulang tahun buat gw,
makin nambah umur, jatah hidup makin berkurang
dan ingatlah kalo nanti hidup gw itu bakal dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Ngasih Jatah

Nikah….selalu menghantui….

Saturday, September 16th, 2006

orang nikah itu ya mungkin selalu ada ya….
gak mesti ada waktu-waktu tertentu.
mungkin hampir tiap minggu ada itu yang namanya acara pernikahan (kecuali bulan puasa kali ya)
tapi kalo yang nikahan itu orang-orang yang gw kenal, rasanya agak melekat di ingatan juga.
contohnya dalam sebulan ini, temen gw ada tiga yang nikahan, satu lagi besok, dan ada lagi yang bakal ngeresmiin status sebagai suami dan istri dalam waktu dekat.
tadi aja waktu lagi makan di warung, eh ada dua pasang bapak ibu yang rupanya lagi membicarakan acara lamaran anak-anak mereka

dalam kondisi normal mungkin gw gak ambil pusing.
tapi ini orang-orang yang gw kenal dan rentang waktunya berdekatan.
kayaknya lagi jadi tren buat menikah atau merencanakan pernikahan, nih…
(ada yang bilang, sekarang kan udah deket bulan Ramadhan. Akan sangat "menyenangkan" bila bisa menjalankan ibadah di Bulan Suci bersama suami/istri)

lha gw yang sebenernya cuek sama soal beginian, kok ya jadi agak ‘terusik’ juga.
temen-temen gw yang sudah dan akan menikah itu, kalo gw bandingin ya masih seumuran sama gw. paling beda setahun atau dua tahun.
mereka pasti sudah jauh-jauh hari mikirin soal nikahan ini.
salah seorang temen gw juga, walaupun belum akan menikah dalam waktu dekat, pernah ngasih tau ke gw kalo dia dan calon pasangannya sudah mempersiapkan tabungan buat nikah dan rumah.
sementara gw, mungkin karena cuek dan gak pedulian, baru ngeh dan merasa agak ketinggalan.

orang-orang sudah pada ngerencanain dan melakukan, sedangkan gw masih ngegantungin di awang-awang.

tapi yang gw pikirin, apa emang udah saatnya buat gw ya?
apa gak terlalu cepet buat memikirkan masalah nikah ini secara lebih serius, bukan sekedar keinginan dan harapan?
atau ternyata gw memang ketinggalan sama temen-temen gw itu?

satu hal, gw gak mau latah…
gw mau yang dari hati sanubari nan terdalam
bukan karena temen gw, karena tren, atau faktor eksternal lainnya
karena gw harus siap
kalo gw cuma latah atau ikut-ikutan, gw takut kadar kesiapan gw tidaklah penuh
ini kan masalah masa depan

********
pada kesempatan yang berbahagia ini, gw mau menghaturkan ucapan selamat plus doa buat Devi, yang besok resmi statusnya sebagai seorang istri. Semoga Devi dan Suami diberikan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta barokah dalam rahmat dan ridho Allah SWT"

Juga buat Kak Didik, serta Mas Pai (kapan mas, pemberitahuan resminya?), gw kasih yang sama dengan diatas deh

====================================================================================
apakah gw kepikiran untuk menikah?
ya jelas dong…!!!

apakah gw mau menikah?
ya..iyyyaa…laah !!!

copy paste mentah-mentah

Wednesday, September 13th, 2006

sewaktu lagi browse di Intranet kantor, gw nemuin tulisan di sebuah blog.
gw copy dan paste aja, krena gw terkesan sama isinya. silakan

    
                                              Biar Kusimpan Saja Cintaku,

Kan Kusampaikan untuk Meminangmu

 
 

 Tit tit tit tit, tit tit tit tit, tit tit
tit tit, suara jam weker kotak itu masuk ke lorong kupingku dan menggelitik
telingaku. Jarum jam murah itu menunjuk daerah antara nomor empat dan angka
lima. Dengan beberapa kemalasan yang tersisa dan bersarang di dada, aku
bangunkan saja badanku yang masih basah dengan keringat gara-gara udara Jakarta
yang cukup panas.

 Dengan
mata setengah tertutup kubuka pintu kamarku , pelan dan perlahan. Di dalam rumah
kos yang lampunya masih mati itu kuseret kakiku keluar kamar. Teko plastik
akhirnya kuraih dan kutuangkan air dingin ke cangkir tua berwarna merah muda
yang antik, yang sudah langka dan mungkin sudah tidak diproduksi atau tak lagi
ada di pasaran. Kuteguk saja tanpa sela. Laju air minumku mendesak udara di
dalam perutku dan keluarlah ia melalui mulutku sebagaimana orang menyebutnya
sendawa. Dingin dan segarnya air membantu menyejukkan dada dan membukakan mata.

 Berjalan
dengan kaki yang masih terseret kumenuju kamar mandi. Handuk merah kugantungkan
di pintu. Gayung demi gayung kusiramkan air yang tidak sedingin di desaku yang
memang berada di kaki gunung. Sambil meratakan air ke seluruh tubuh aku
berharap sirna beban di dada, hilang pikiran-pikiran di dalam tengkorak, dan
kembalilah kejernihan diri.

 Allahuakbar
allahuakbar, allahuakbar allahuakbar, oh suara adzan dari seorang mahasiswa
asal Cirebon yang datang paling awal meraihku. Segeralah aku berpakaian dan
berwudlu. Kubuka satu per satu pintu kamar teman-temanku yang tidak terkunci.
Sebenarnya aku ingin mebangunkan mereka dengan mengetuk pintu sebagaimana
mereka kadang-kadang membangunkanku. Namun aku tak enak hati karena aku sendiri
merasa terusik ketika digugah dengan cara seperti itu. Ah sudahlah kubuka saja
pintu kamar 10 temanku yang tak dikunci, hanya berharap semoga suara pintu yang
agas halus itu membangunkan mereka tanpa ada perasaan terusik.

Teman sekamarku sendiri ternyata belum
bangun. Kutaruh tanganku yang masih agak dingin dan basah ke kakinya dan
kutepuk-tepukkan tiga kali dengan perlahan. “Mas, mas Fir ! Suboh mas, subuh (Mas, mas Fir ! Subuh mas, subuh )”,
suaraku agak pelan takut mengagetkan. “Lho, wis suboh tho ? (Lho, sudah subuh ya ?)”, jawab beliau
dengan suara masih agak berat. “Yo, wis suboh Mas ! Tak ndhisek yo ! (ya, sudah subuh Mas ! Aku berangakat duluan
ya!)
”.

Kuraih saja peci rajut warna biru tua
bergaris putih dari mejakudan aku langsung cabut ke mesjid. Tidak ada daya kita
untuk melakukan kebaikan dan tiada pula kekuatan untuk menghindari keburukan
kecuali dengan pertolongan dan atas izin-Nya, itulah pesan yang harus kuingat
ketika berdoa keluar rumah, pesan dari guru-guruku terdahulu yang insya allah
tetap kuingat jasa-jasa mereka dan akan tetap ikut kudoakan.

Kira-kira 150 meter sandal plastik hitam
menuntunku hingga ke depan pintu masjid. Kami masuk dan kumanfaatkan waktu
antara adzan dan iqomah yang mustajab dengan berdoa. Pak Slamet spesialist
iqomah pun melaksanakan rutinitasnya.semua jamaah berdiri, sholat dan berwirid,
hanya sepuluh menit. Aku pun ikut bersalaman dengan bapak-bapak dari golongan
kaum tua warga setempat.

Reka-rekan mahasiswa yang menyingkir ke
belakang rupanya sudah melantunkan beberapa halaman ayat Al Qur-an aku menuju
mereka dan mengambil salah satu mushaf dari rak di tembok masjid. Kuambil
mushaf bersambul warna perak yang besar tulisannya. Tidak seperti teman-temanku
yang membawa mushaf Beirut kecil dari kos-kosan, aku memilih mushaf Indonesia
karena mereka lebih hebat dariku dalam membacanya.

 Jam
lima seperempat (05.15), itulah yang ditunjukkan dua jam dinding besar yang
tertempel di tembok Masjid Muhammad yang masih dalam masa pembangunan kembali
itu. Tinggal aku dan dua orang bapak yang biasa berdzikir hingga matahari
benar-benar nampak. “ Shodaqallahul ‘adhiim, pulanh ah, sudah jam segini kok”
bicaraku pada diri sendiri. Kuletakkan kembali mushaf Al Qur-an ke tempat
semula dan aku pulang.

Sampai di rumah kos, anak-anak sudah duduk
manis di depan TV dan menyambutku dengan menjawab lengkap salamku. Mereka
menonton acara siraman rohani di stasiun-stasiun televisi yang menjadi suci di
pagi hari, dan selebihnya kelihatan pula yang asli.

Namun, aku tidak begitu tertarik melihat
kotak ajaib itu. Aku lebih memilih untuk mencoba membiasakan diri belajar setelah
fajar meski tidak terlalu lama. Kubersihkan mejaku yang yang tak rapi seperti
layaknya kamar kebanyakan pemuda yang bermalas-malasan. Tinggal sekamar dua
orang ternyata tak membuatku termotivasi untuk menjadikan kamarku lebih rapi.
Sepuluh Maret 2003 jamtujuh empat lima, dengan tas biruku dan pakaian putih
hitam, aku berangkat ke kampus tercinta. Udara pagi yang masihsegar ikut
menjaga semangat ini. Seperti biasa, aku dan teman-temanku menunggu dosen di
lantai paling bawah. Hari itu kelasku yang bersiswa 32 anak akan digabung
dengan kelas sebelah yang berjumlah siswa sama. Ternyata di kelas sebelah ada
seorang mahasiswi yang cantik, berkerudung putih. Kuperhatikan dia dengan
diam-diam.

Pak dosen kesayangan kami datang, kami
langsung bergegas menuju lantai tiga dan berebut kursi yang bagus di belakang.
Mahmud Zainuri !”, “Hadir Pak !“, pak dosen mengabsen dan aku menjawab. Beliau
mengabsen kami satu per satu sampai angka tiga puluh dua. Giliran kelas
sebelah, kuperhatikan dengan seksama.sampailah pak dosen pada sebuah nama, “Risma Agustia”, ternyata mahasiswi itu mengacungkan jari. “ Rupanya itu
tho namanya, bagus juga ya”.

Seperti kelakuanku biasanya ketika sudah
cukup bosan dengan penjelasan dosen, aku mencari kegiatan ekstra. Aku
memperhatikan tingkah teman-temanku satu demi satu. Ada yang membaca komik,
berbicara sendiri maupun mengobrol dengan teman sebelah, ada pula yang sudah
berjalan-jalan ke alam hayalan dan bermain-main dengan Morpheus. Kuamati diam-diam cewek kelas sebelah, wajahnya putih,
memperhatikan dosen dan sesekali menggarisi bukunya dengan spidol kuning
sesuatu yang dianggap penting. Kadang-kadabg ia pun berbicara dengan temannya
dengan lemah lembut, mungkin ia menanyakan sesuatu yang kurang jelas. “Wah
sudah cantik, lemah lembut dan kabarnya pandai pula, ia menduduki IP tertinggi
di kelasnya”.

Selanjutnya hari-hariku berjalan dengan
kebiasaannya. Begitu begitu saja dan tak ada yang istimewa, sampai pada
beberapa  minggu kemudian. Suatu malam
aku bermimpi, aku bertemu dengan dua gadis dari kelas sebelah, mereka
menghampiriku yang waktu itu ditemani seorang sahabat di sebuah vila di
pegunungan. Merek menyapa kami dan kami tak bisa apa-apa kecuali hanya
berbincang-bincang saja.

“Padahal dalam keseharian, bahkan
berkenalan pun aku belum pernah apalagi saling sapa”, pikirku waktu itu.
Setelah sadar timbul berbagai macam kalimat yang berakhiran tanda tanya di
kepalaku. Apaan ini ?, bisa bisanya mimpi dengan orang yang belum kenal. Dari
mana datangnya ini ? Apa hanya dari setan semalam saja ? Apakah ini timnul
karena ada ‘rasa’ yang muncul dengan sendirinya ? Ataukah mungkin secara tak
sadar aku telah ‘suka’ pada dia ? Mungkin ini ya, yang dinamakan tresna jalaran sangka kulina (timbulnya
suka/ cinta karena terbiasa)
? Dialog diri pun berakhir tanpa menyisakan
jawaban. “Aah, aku tak mau ambil pusing, biarkan lewat saja”.

Mimpi itu pun pergi seiring berlakunya
waktu. Hari libur Sabtuku kugunakan untuk main ke rumah seorang kawan. Beliau
orang yang cukup banyak ilmunya. Adalah Dua
Purnomo, pri aberkulit cokrlat,
berpostur tinggi besar, teman sekelas dan ia setahun lebih muda dariku.

Di kamar beliau kami berbicara panjang
lebar. Berdiskusi tentang wawasan keilmuan, kulihat beliau berpengetahuan luas.
Bicara keluarga, kutemui latar belakangnya rajin ibadah. Bicara kuliah, ia
santai tetapi kulihat cukup antisipasif. Singkat kata, banyak kebaikan yang
kulihat padanya dan tak kujumpai padaku.

Sambil mendengarkan omongannya,
kuperhatikan hiasan-hiasan di dinding kamarnya yang berukuran tiga kali tiga
meter. Sampailah pandanganku pada secarik kertas yang bertuliskan nama, ‘Risma’
dan satu kata yang aku kurang jelas melihatnya. Tulisan kecil itu mengejutkanku
dan tiba-tiba muncul ‘rasa’, rasa agak khawatir karena suka padahal kemarin aku
telah mebiarkannya lewat begitu saja melalui ingatanku. “Rupanya beliau juga
menyukainya, bukan hanya aku”, sedikit kata hatiku. “Pur, itu anak kelas
sebelah ya ?” tanyaku dengan agak sedikit menyembunyikan grogi. “Ya”. “Ia satu
kota denganmu ya ?”, tantaku ingin tahu.”Ya, kenapa, kok nanya segala ? Naksir
ya ?”, serangan baliknya dengan nada agak bercanda. Aku bingung menjawabnya,
“Ah enggak, nanti saingan dong sama kamu. Ttapi, nggak apa-apa sih, selama
janur kuning belum melengkung khan masih milik bersama”. Beliau dengan enaknya
menjawab, “ Lho, kalo begitu kamu kalah donk, aku kan ojab qabul dulu dan
enggak pakai janur-januran segala”. Kami pun tertawa secukupnya dan aku pun
pulang dengan membawa sederet keheranan.

Sesampaiku di rumah, aku berpikir tentang
rasa itu. Kadang-kadang sampai terlintas wajah gadis yang manis dan pintar itu.
Aku sempat khawatir kalo-kalo bayangannya masuk waktu aku sholat. Beberapa hari
kemudian ternyata apa yang kutakutkan terjadi, dia telah mengganggu dan menyita
sebagian hatiku.

Hari Kamis, aku sudah siap untuk kuliah.
Sesaat sebelum berangkat, jam 07.30, aku menghidupkan televisi dan menonton acara
bimbingan agama. Kebetulan sekali, pada waktu itu ada seorang penelpon yang
bertanya ihwal keadaannya. Penelpon bertanya tentang apa yang harus dilakukannya
sehubungan dengan seorang pria yang telah menjadi pacarnya selama dua tahun. Si
penelpon mengajak menikah tetapi Si Cowok menolaknya. Ibu ustadzah
menasihatinya untuk beristigfar, mohon ampun kepada Allah lalu sholat istikhoroh.
Beliau menganjurkan untuk minta kepada Allah agar dijelaskan perkaranya, kalau
memang baik ya mohon diberi petunjukdan didekatkanserta diikatkan dengan
jalinan pernikahan, jika memang tak baik ya mohon dijauhkan dan dan diberi
ketabahan.

“Tuhan mungkin sedang menyindirku lewat TV
ini”, pikirku saat itu. Sore harinya, aku menyisihkan waktu untuk mengikuti
pesan ustadzah tadi pagi. Aku coba merangkai kata dan bermunajat kepadaNya :

Ya
Allah ya tuhanku, aku telah menyukai seseorang, maka aku memohon pada Pengabul
Doa. Jadikanlah cintaku ini cinta yang benar, bentuklah rasa ini karena Mu
wahai Dzat Yang Maha Pembentuk, serta ikatkanlah kami dengan jalinan yang sah
menurutMu, jika ini memang ‘jatah’ku.


 

Yaa
Rabbii, jangan jadikan ini pengurang cintaku kepadaMu dan jangan jadikan ini sebagai
penghalang rinduku padaMu sehingga aku jadi ‘mendua’.

Kumohon,
jadikan di hatiku kebahagiaan yang tentram, bukan keresahan.sungguh, ia telah
membuat diri gundah, kosongkan dirinya dari hati ini. Maka kutitipkan dia dari
hatiku kepadaMu Dzat Yang Maha Mamelihara.


 

Hari-hariku masih saja menyimpan gelisah.
Lalu aku kuatkan tekaddi hati untuk menghilangkan hal-hal itu selagimasih
kuliah. Mungkin harus kuselesaikan dulu kuliahku yang sudah berjalan sampai di
tengah. Setelah kulampaui, baru akan berpikir untuk mencari, menemui, dan
menikahi. Itu sedikit tekadku untuk mengurangi resahku, dan untuk menumpahkan
rasa yang masih tersisa aku mencoba mengabadikannya lewat goresan pena di
kertas yang telah tersedia. Aku berharap dapat menghilangkan gelisah dan resah.
Semoga saja berguna dan aku dapat bertahan sampai waktunya. Kumulai menulis
huruf demi huruf hingga lima bait syair penuh rasa :

Kepada:
 Seorang Saudariku di Sana

Terlalu
banyak rasa yang harus dipendam daripada diungkapkan

Masih
ada banyak rahasi yang mesti disimpan daripada diutarakan

Tetapi,
ini menjadi beban,

ke
mana harus menghilangkan/melepaskan


 

Haruskah
kukatakan saat ini

bahwa
aku rindu padamu

Apakah
mesti kuungkapkan hari ini

bila
aku memendam rasa itu


 

Bagaimana
aku bisa mengatakan

sedang
lidahku terasa kaku

dan
aku masih malu

lagipula, ada Dia Yang Mahatahu


 


 

Biar
kupendam cintaku, kubur dan kutanam di hati

Semoga
tumbuh subur dan berbunga

sehingga
pada saatnya, kuberikan pada yang kucinta


 

Kutitipkan
cintaku padamu kepada-Nya

Biar
Dia yang memelihara

Jika
sudah jatuh masanya,

kuambil
pokok serta bunganya

dan
kuberikan padamu sebagai mas kawinnya.


 

Alhamdulillah, 3 JUNI
2003, ditulis ulang Minggu, 20 Juni 2004. semoga Allah Ar Rahman, Ar Rahim, Al
Hafidh, memberi kekuatan kepadaku dan kepada kita semua untuk dapat menjga
diri, terutama dari cinta. Semoga Allah mengampuniku atas segala dosaku dan
dengan semua kemurahanNya, begitu pula untuk semua yang boleh aku doakan.
Amin,
Allahumma Amin

unknown format

Tuesday, September 12th, 2006

wake me up when September end…..

gw orang yang mudah jatuh hati

Tuesday, September 12th, 2006

sore ini menjelang malam, gw yang sehari-harinya pulang naik bis jemputan kali ini tidak turut sampai ke tujuan. kali ini gw rencananya mau nyari tiket buat pulang, biar nanti gak kehabisan.
nah karena agen tiket tersebut beralamat di Jalan Bintaro jalan yang bebeda dengan tempat kos gw, maka gw turun di situ.
dari tempat gw turun, gw mesti jalan beberapa ratus meter lagi lalu nyeberang jalan untuk sampai ke agen travel tersebut.
nah saat gw menyusuri jalan yang beberapa ratus meter itu, tiba-tiba mata gw tertumbuk ke pelataran sebuah rumah makan yang etalasenya pas mepet di trotoar. di sana, di depan etalase itu, duduk bersandar seorang bapak tua, kurus dan agak dekil, mungkin karena terpaan debu dan panasnya cuaca, tubuhnya terlihat lemah namun memancarkan rona ketangguhan.
sang bapak duduk di depan sebuah pikulan. rupanya ia memutuskan menggelar dagangannya disana. di atas pikulan itu dihamparkan kacang rebus. ya, kacang rebus !!

entah karena suasana sore menjelang malam (yang menurut gw adalah salah satu suasana paling romantis yang pernah gw rasa), atau karena perasaan gw sensitif (ceileee……), tiba-tiba gw merasa iba. gak tau, itu namanya iba atau bukan. tapi gw merasa nelangsa ketika melihat sang bapak duduk dengan penuh harap, mengharap ada orang yang membeli kacang rebusnya.
gw merasa seolah masuk ke dalam pikiran sang bapak dan ikut berpikir seolah-olah gw adalah sang bapak penjual kacang.
orang yang sehari-hari mengantungkan hidupnya dari terjualnya butuir-butir kacang tersebut….
apakah hari ini kacang yang gw bawa terjual cukup banyak hingga penghasilannya bisa menyenangkan istri dan anak-anak gw?…
akh ada banyak perasaan yang berkecamuk di hati dan kepala gw…
sulit untuk dituliskan..bikin makin nelangsa….

terbersit dalam hati gw untuk membeli saja kacang bapak itu. walaupun gw sedang gak butuh. sekedar menambah penghasilan sang bapak…namun karena rumah makan itu sudah terlewat dan agen travel sudah di depan mata, keinginan itu terlupa….

gw baru sadar ketika urusan tiket gw selesai.
ketika gw melihat di kejauhan di seberang jalan sana, sang bapak telah beranjak pergi. dengan langkah pelan tertatih, mungkin karena sudah lelah, ia berjalan sambil memikul pikulan kacangnya.
gw gak tau apa dagangannya telah berkurang dan sejumlah uang bertambah ke kantongnya, gw gak tau…
gw cuma bisa berkata dalam hati, "maafin gw , Pak…."

=====================================================================================
hal yang sama sering gw rasain ketika melihat pengamen jalanan yang tampak letih, penjual asongan yang bersimbah peluh di terik panas, pedagang yang ‘berorasi’ di bus kota, dan sebagainya……
gw kok mudah sekali merasa iba, ya?