Archive for September, 2007

refleksi

Thursday, September 20th, 2007

waktu masih di tingkat tiga dulu, seorang dosen (coba tebak, dosennya cowok apa cewek)pernah bertanya pada kami sekelas.
apa cita-cita kami dulu.
semua anak ditanya. ternyata jawabannya beragam. mulai dari jawaban standar : dokter, insinyur; sampe yang unik : artis, petinju.

gw dulu sebenernya pengen jadi astronot.
tapi ketika pertanyaan itu diajukan ke gw, yang keluar dari mulut gw adalah "Saya pengen jadi orang baik, Pak" (yup…buat anda yang menjawab cowok, gw kasih nilai seratus. buat yang jawab cewek, berusaha lagi, ya..)

kalo gw pikir-pikir, itu jawaban bodoh.
jadi orang baik itu bukan cita-cita.
jadi orang baik itu keharusan.
walaupun gw sangat yakin semua manusia di dunia ini tidak akan 100% jadi orang baik semua.
ya iyalah…kalo gak ada orang yang gak baik, buat apa ada orang baik? sebuah prinsip adil dan berimbang.

gw gak tau apakah gw sudah bisa digolongkan sebagai orang baik.
dan gw gak berani menghakimi diri sendiri.
karena yang berhak menghakimi adalah hakim, bukan jaksa..
maksud gw, biarlah orang lain (termasuk anda) yang berhak menilai.
kalau anda sudah menilai gw, dan ternyata gw bukanlah golongan orang baik, silakan sampaikan penilaian anda  ke gw.
gw terbuka atas segala kritik dan saran asalkan disampaikan lewat alamat di bawah ini (mengacungkan jari ke bawah sambil menggerakkannya bolak balik selebar dada. dada gw sendiri tentunya)
tapi bila anda menilai gw sudah termasuk golongan orang baik, tolong jangan sampaikan penilaian anda. cukup simpan saja dalam hati anda.

oke silakan menilai saya….

(hening sejenak…………………)

oke silakan sampaikan penilaian anda….

(………………………….hening…………….)

lho kok pada diem??

(………………………….hening……………)

ooh..oke..gw ngerti…
terimakasih…

========================================================================

gw sering sangat kagum pada orang yang baik.
gw sering menemukan dalam perjalanan hidup gw bermacam-macam orang baik.
juga sangat sering menerima kemurahan hati mereka.
hal itu yang membuat gw pengen jadi orang baik.
yang gw liat jadi orang baik itu begitu menyenangkan.
orang yang baik tidak perlu mengkhawatirkan prasangka-prasangka.
orang baik bisa menjalani hidupnya dengan tenang.
orang baik juga diterima oleh lingkungan sekitarnya
juga orang yang tetap jadi orang baik walaupun orang lain berlaku tidak baik kepadanya.

hfff……..
(soundtrack : Nice Guys Finish Last.Mp3–Green Day)

========================================================================

gw gak tau, berapa banyak kebaikan yang sudah gw perbuat selama 23 tahun terakhir ini. jangan-jangan sudah terhapus oleh banyaknya perbuatan tidak baik.
juga gw gak tau apakah gw masih akan bisa berbuat baik di tahun-tahun berikutnya…
Turut Berduka Cita atas makin berkurangnya masa hidup gw…

untitled

Monday, September 17th, 2007

sepotong kata mutiara yang gw comot dari buletin board,

Orang yang paling bahagia adalah orang
yang tidak merasa selalu membutuhkan
semua hal terbaik, mereka hanya
berfikir
bagaimana menciptakan semua hal menjadi
terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam
hidupnya.

=========================================================================
entah apa maknanya. cuma gw seneng ngebacanya…

<!–
if (browseris.mac && !browseris.ie5up)
{
var ms_maccssfpfixup = “/_layouts/1033/styles/owsmac.css”;
document.write(”");
}
//–>

.jes3{}

dua fragmen pagi ini

Sunday, September 9th, 2007

I

"kakak lo IPA apa IPS ?"
"IPA. Di keluarga gw tuh semuanya IPA. cuma gw sendiri yang nyungsep ke IPS. Bokap gw IPA, nyokap IPA, kakak-kakak gw juga IPA. jadi kalo kita lagi kumpul-kumpul gw tuh suka dicengin sama mereka"

percakapan di atas adalah sepenggal obrolan yang sempat gw tangkap di sela-sela deru KRL pagi ini. obrolan antara dua anak SMU yang keliatannya lagi menghapal buat tes. karena mereka sedang memegang buku dan sesekali menggumamkan sesuatu sambil mencongak.

ternyata perkembangan dunia SMU sejak gw lulus sedikit sekali. ternyata kebiasaan menghapal sebelum tes masih dilakukan oleh beberapa pelajar masa kini. ya..gw dulu juga gitu soalnya. tapi pernah juga gw gak pake acara menghapal sebelum tes. bukan karena udah siap, tapi karena gw lupa bahwa hari itu ada tes. bodoh…..

juga soal dikotomi IPA dan IPS.
kenapa ya kesannya IPA itu lebih baik daripada IPS?
hampir semua anak SMU berharap masuk jurusan IPA. bahkan ada juga yang bela-belain sampe pindah sekolah cuma agar bisa masuk IPA.
ya iyalah…kalo lo masuk jurusan IPA, lo bisa punya banyak pilihan untuk milih fakultas pada saat lo kuliah nanti.

milih? bukannya justru kita yang dipilih oleh Universitas untuk masuk ke jurusannya?
kalo kita bisa milih artinya kita bebas masuk fakultas mana aja, TANPA TES.
itu baru namanya milih.

gw gak tau gimana pendapat kalian soal IPA versus IPS ini. tapi gw dulu gak peduli sama yang namanya penjurusan. gw dulu juga dari jurusan IPA. tapi gw gak melihat apa manfaat gw dulu sekolah di jurusan IPA, kecuali bahwa gw jadi tau bahwa gw sangat lemah di bidang aljabar (integral, diferensial, eksponensial, logaritmasial, dan kawan-kawan-sial….), juga tak berdaya dalam perhitungan gerak Sentrifugal, kesulitan dalam menjelaskan apa perbedaan antara Ganggang dan Alga, serta tak pernah mampu memahami penyelesaian persamaan reduksi-oksidasi atawa Redoks.

juga apakah ada korelasi antara jurusan IPA dan bidang pekerjaan gw sekarang?
kalo misalnya ada, gw belom nemuin.

lha kok gw bisa masuk IPA?
karena saking gw gak pedulinya sama penjurusan, dulu waktu pengisian formulir minat penjurusan, gw gak ngisi. sampe sampe Wakasek bidang Kesiswaan manggil gw dan nanyain gw masuk jurusan apa?
gw jawab aja "ya..saya sih gimana nilai saya aja, Pak. kalo emang memadai buat masuk IPA saya terima aja masuk IPA, kalo emang cukupnya buat masuk IPS, ya saya juga gak keberatan"
dan sejarah mencatat saya masuk ke Jurusan IPA.

kenapa gw gak peduli soal penjurusan? karena bapak gw pernah ngasih tau bahwa banyak pegawai di kantornya justru punya latar belakang pendidikan yang tidak berhubungan sama kegiatannya.
seorang sarjana kehutanan yang jadi analis kredit. sarjana teknik mesin yang jadi kepala bagian SDM. mungkin di bidang lapangan kerja lainnya juga ada.
kalo udah gitu, apa gunanya masuk IPA atau IPS?

tapi kan saya pengen jadi dokter, insinyur, ahli nuklir?
ya silakan. kalo anda punya idealisme justru harus dipertahankan.
tapi kalo anda belom (gak) tau mau kemana anda setelah lulus SMU, seperti gw, gak perlu lah terlalu ngotot untuk mengejar IPA.
gengsi? itu cuma berlaku di sekolah.
paksaan orang tua? orang tua macam apa itu yang gak mengenali potensi anaknya?

lho kok gw jadi menggugat jurusan IPA?
bukan…bukan…poin yang ingin saya sampaikan adalah gak perlulah diciptakan kondisi seolah-olah IPA itu lebih baik dari IPS.
sama saja. tergantung minat dan kemampuan.

II

"gw mo masuk STAN kayaknya"
masih dari percakapan dua pelajar tadi.
kemudian percakapan terganggu noise….
….."tapi masuk STAN juga tinggi lho" (gw gak jelas apa maksudnya tinggi. mungkin sejenis passing Grade)
"yang masuk STAN anaknya pinter-pinter" (BWAHH!!! gw mau ketawa denger kata-kata itu….seandainya mereka tau orang macam apa gw ini….)eh…tapi bangga juga DIANGGAP pinter.
Tapi mereka kan gak ngomongin gw, tapi ngomongin mahasiswa STAN selain gw. lagian gw juga udah alumnus.

"iya juga ya….tetangga gw tuh ada yang anaknya pinter banget, pake kacamata,pake rok setengah gak lulus juga ikut ujian STAN"
(gw gak ngerti, kenapa anak dengan penampilan begitu selalu dianggap pinter…eh salah kebalik…kenapa anak pinter selalu diasosiasikan dengan penampilan seperti itu?)

lagi-lagi…untuk entah keberapa ratus kalinya, setiap ada perbincangan mengenai almamater gw itu gw kembali bersyukur dalam hati.

========================================================================

gw dedikasikan postingan ini untuk sekolah gw….dimanapun gw pernah mendapatkan pendidikan formal